REPUBLIKA.CO.ID, Oleh:
Dr HM Harry Mulya ZeinAkhir
pekan ini, seluruh umat Islam dipastikan sudah menjalankan ibadah puasa
Ramadhan. Hampir seluruh umat Islam yang beriman menjalankan ibadah di
bulan penuh berkah ini.
Namun, biasanya kita juga melihat ada
yang kontras ketika Ramadhan tiba. Masjid-masjid penuh. Bukan untuk
beribadah membaca al-Quran, tetapi banyak umat Islam yang berleha-leha,
tidur-tiduran menghabiskan waktu siang mereka.
Produktivitas
kerja menurun. Nuansa bermalas-malasan kentara. Seakan-akan puasa
menjadi legitimasi sebagian dari kita untuk bermalas-malasan dan
mengurangi aktivitas sepanjang menjalankan ibadah puasa. Pengurangan
aktivitas itu tentu saja berujung pada berkurangnya kreativitas. Jika
demikian terjadi maka sungguh disayangkan.
Sepantasnya,
Ramadhan menjadi momentum meningkatkan produktivitas dan berkarya,
bukan bermalas-malasan.bila dihayati secara mendalam, Ramadhan seperti
madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan
mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan
memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama
yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki.
Kesempatan
Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah
(ampunan), dan itqun min al-nar(pembebasan dari api neraka),
sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Puasa
yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga
merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah).
Dalam
sejarah Nabi Muhammad SAW, Ramadhan menjadi bulan jihad. Banyak
peristiwa bersejarah yang mencatat bahwa Ramadhan menjadi bulan jihad
umat Islam. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 hijriah, umat Islam
mengalami perang Badar.
Perang ini terjadi di gurun pasir yang
melibatkan 314 muslimin melawan 1000-an orang kafir dari Makkah.
Peperangan ini adalah salah tonggak penting dalam sejarah Islam, karena
sejak itulah umat Islam memulai era peperangan secara fisik, yang
tentunya membutuhkan kemampuan yang lebih berat. Kalau mentalitas mereka
seperti umat Islam zaman sekarang yang hobi tidur siang di bulan
Ramadhan, tentunya sulit memenangkan peperangan.
Dan kota Mekkah
dibebaskan juga pada bulan Ramadhan pada tahun ke-8 hijriah. Rasulullah
SAW menyiapkan tidak kurang dari 10 ribu pasukan lengkap dengan senjata
yang berjalan dari Madinah dan mengepung kota Makkah. Makkah menyerah
tanpa syarat, namun semua diampuni dan dibebaskan.
Pada abad
pertengahan atau tahun 15 Hijriah terjadi perang perang Qadisiyyah
dimana orang-orang Majusi di Persia (saat ini wilayah Republik Islam
Iran) ditumbangkan. Demikiran juga pertama kali Islam menaklukkan
Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziad dan Musa bin Nushair, juga
terjadi di bulan Ramadhan tahun 92 hijriyah. dan sekian banyak kerja
keras yang lain, terjadi di bulan Ramadhan.
Ramadhan seharusnya
menjadi sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai
kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah
masyarakat. Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh
SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu
hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh
keseriusan dan mendamba ridha Allah.
Karena itu, sepantasnya Ramadhan dimanfaatkan secara optimal oleh
semua unsur untuk meningkatkan kreatifitas dan karya. Sikap dan
kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan
win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari
madrasah Ramadhan yang penuh solusi.
Perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah
la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai
muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan.